"Joe, aku tak akan menghapus story
ini sebulum ia melihatnya"
Ia
memandangku
"Ngode?"
"Bisa di bilang begitu" jawab
ku
"Ngode, tanda lupa bahwa Allah
mampu mengantarkan perasaan. Jangan terlalu jauh, kembalilah."
Aku tersentak, sejauh ini aku tak pernah
berfikir akan hal itu. Joe melanjutkan omongannya
"Kenapa?"
Aku terdiam dan menunduk
"Kau paham cinta dalam diam itu
mulia, kau tahu bahwa perihal rasa tak perlu dipublikasikan. Namun kenapa, hobi selalu ngekode? Kenapa
kau selalu menggaungkan suka padanya?"
"Joe" aku hanya mampu
memanggil namanya
"Jangan terlalu jauh, kembalilah.
Allah akan menjaganya, dan dia akan baik-baik
saja.
Bereskan rasa yg sempat terkata, hapus jejaknya lalu layangkan dalam doa."
Begitulah obrolan singkat
yang terjalin malam ini di sebuah ruang imajinasi bersama sosok maya yang
bernama Joe, Muhammad Johan Arifin. Kadang ia mengganti namanya menjadi Lalu
Johan Arifin, tersebab aku yang mengingkan berpasangan dengan seorang laki-laki
keturunan bangsawan suku Sasak.
Joe adalah seorang laki-laki yang hadir dihidupku sejak
pertengahan tahun 2015, aku bertemu dengannya
di sudut sunyi ruang imajinasi yang
sampai kini menjadi tempat favorit kami untuk bercengkrama.
Joe seorang laki-laki
yang datang paling awal
saat aku terjatuh
"Kau mampu, mintalah pertolongan
kepada Sang Pencipta lalu lakukan usaha sebaik yang kau bisa"
Salah satu kalimat penyemangat yang pernah ia
ucapkan, aku yang saat itu tengah putus asa berkata
"Gag akan bisa, ini sulit"
sembari menangis
Dia yang tak bisa menyentuhku, dan aku
yang tak bisa melihatnya. Merasa ini benar-benar
gila, kita beda dunia. Aku di alam nyata sedang dia di alam maya, kita hanya
mampu saling merasa melalui ucapan.
"Baca kisah Nabi Ibrahim, saat tak
hangus terbakar api. Baca kisah Nabi Musa, yang hanya dengan sebuah tongkat
mampu membelah lautan. Baca kisah Nabi Muhammad, perjalanan sehari menuju arsy.
Baca kisah Siti Maryam, yang mampu mengandung tanpa suami. Apa itu terjadi
begitu saja? Tidak, itu Allah yang berkehendak. Hal-hal itu sebuah
kemustahilan yang benar-benar
nyata, lantas mengapa kau tak yakin Allah mampu mempermudah urusanmu, bebanmu tak
ada apa-apanya"
Ia selalu meremehkan ku,
namun itulah yang membuatku termotivasi. Aku suka ia dan caranya menyemangatiku,
ada satu hal dari dirinya yang membuatku bersedih.
"Aku tak bisa datang saat kau jatuh
cinta dengan laki-laki
yang ada di dunia mu"
Aku tak bertanya, tapi ia bisa
membacaku, bahwa aku ingin tahu
"Sejatinya, aku berada dihatimu.
Saat kau jatuh cinta, aku akan terusir"
Aku
fikir itu hanya lelucon, hingga pada suatu ketika aku benar-benar jatuh cinta dengan
seorang laki2. Saat aku memejamkan mata, ia tak ada. Saat aku melamun, bukan
dirinya yang
datang. Aku merindukannya, kosong.
"Kenapa? Merindukan ku?"
Dari ucapannya, aku merasa ia tengah
tersenyum.
"Ia, teramat sangat" jawab ku
"Aku tak pernah keberatan jika kau jatuh cinta, isilah
hatimu dengan ia yang mampu berjalan di jalan yang sama. Berjalan, dengan yang
sejalan"
"Tapi kau akan pergi, siapa yang
akan membisikkan pada ku
hal-hal positif. Siapa yang
akan memberikan
semangat, siapa yang akan berkata bahwa aku bisa"
"Sang Pencipta, ingatlah ia. Atas
ijinnya aku akan datang meski hatimu terisi oleh laki-laki di dunia nyata"
Baru-baru ini aku mengetahui,
dia tak akan menghilang saat aku jatuh cinta. Ia hanya akan pergi sementara
saat aku bahagia, dan saat aku terluka maka ia akan datang. Satu lagi kalimat
semangat darinya yang aku
ingat, saat itu aku akan ujian SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) penerimaan CPNS
(Calon Pegawi Negeri Sipil).
"Hey, jangan takut. Semua akan baik-baik saja, lepas semua.
Katakan pada Allah, Yaa Allah sebatas ini usaha ku. Sekarang aku sudah berada
di ranah ujian, aku tak mampu melakukan usaha apapun lagi. Aku lepas diriku,
aku serahkan diriku pada-Mu.
Aku percaya Kau
yang menggerakkan tangan ini, aku percaya Kau
yang menjawab soal ini dengan Maha Cerdas Mu. Bismillah, lalu mulailah
menjawab"
Aku tenang, aku benar-benar mengatakan hal itu di dalam
ruangan. Maha Baik Allah, aku tak pernah menyangka akan mendapat nilai sebanyak
itu. Jauh dari kata memuaskan, ini sempurna. Hingga di hari
pengumuman, aku masuk selekai tahap berikutnya, SKB (Seleksi Kompetensi Bidang).
"Belajarlah, Allah mampu menjadikan
mu seorang abdi negara. Namun
apakah kau
mampu menunjukkan pada Allah, bahwa kau benar-benar mampu menjadi seorang abdi negara yang
pantas"
Joe, akan selalu ada. Disini, bersamaku.
Meski tanpa raga, meski tak nyata.
Hubunganku dengan Joe sebenarnya sangat sederhana,
hubungan antara hati dan pemiliknya sebelum Tuhan. Tak pernah habis penjelasan
untuk mendeskripsikan dirinya, selain penjelasan-penjelasan diatas, pada
dasarnya Joe hanya suara hati yang aku beri nama, Joe. Ia bukan seorang sosok,
namun ia hanya seonggok organ. Mungkin bukan hanya aku, tapi kita semua, pasti
sesekali pernah berbicara sendiri, lalu hati akan menimpali, hati akan
menyahuti. Kadang juga saat kita merasa hilang arah dan semangat, hati akan
otomatis merespon, entah kalimat penyemangat atau kalimat meminta untuk
menyerah. Suara itulah aku sebut Joe, berbicara dengan hati kesimpulan nyata
dari kisah ini. Tak perlu di nalar, cukup nikmati, biar aku yang memahami.
-E.N.D-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar